Rabu, 09 Agustus 2017

PALESTINA

Apakah kau mendengar jeritan pelik dari anak manis yang tak lagi memiliki ibu dan ayah?
Yang riang tawanya dirampas paksa oleh zionis kafir laknatullah
Disana...
Palestina
Apakah kau mengetahuinya saudaraku?
Tentang tanah suci yang kini darah tak lagi asing mengalir di tiap sudut negeri
Suara lontaran peluru dengan bebas diperuntukkan untuk saudara penjaga tanahnya para nabi
Yang disetiap teras rumah terpajang rapi foto pemuda yang bergelar 'mudjahid'
.
Apakah kau mengetahuinya saudaraku?
Tentang kesucian para soleha yang terus terdzalimi
Orang tua renta yang dengan bebasnya mereka sakiti
Imam besar dan ulama yang tertembak senjata api
.
Apakah kau mengetahuinya saudaraku?
Ataukah mungkin kau terlalu sibuk memikirkan peliknya kehidupan di negeri ini, hingga kau lupa banyak sekali saudara-saudara kita yang butuh untuk kau kasihi

Wahyu Ramadhan,
Medan 08-08-17
.

Sabtu, 29 Juli 2017

Sabtu Biru

Hello kawan kawan!!
Yaa, hari ini aku hanya ingin sedikit bercerita tentang sabtu yang yuhuuu
Dimulai dari waktu menunggu dosen pembimbing karya akhir, yaps seperti biasa, bu dosen buat janji jam 9 pagi dan hebatnya beliau datang jam 3 sore. Oohh beybih. Tapi begitupun mahasiswa harus rela menunggu kalau benar benar ingin tamat.
Selesai bimbingan, lanjutlah mencari buku, dan keren sekali 5 toko buku yang di datangi toko buku yg ke 5 yang menyediakan buku tersebut. Sampailah malam hari aku mencari buku keliling-keliling kota. Masuk ke mall mall. Uuhhhh.
.
Lanjut setelah membeli buku, aku putuskan untuk langsung pulang, mengingat juga hari sudah gelap, tapi tiba-tiba hujan turun, aku putuskan untuk berteduh, dan karena perut juga sudah lapar ya aku putuskaaan untuk berteduh di warung bakso. Sedaaappp....
Duduklah aku di kursi yg telah disediakan, kulihat kiri kanan, depan belaakang, semua pada berpasangan, aku lup kalau ini malam minggu. Pasangan yang duduk di depanku, sepertinya mereka anak komunitas,aku bisa menandai dari seragamnya, tapi aku ga tau komunitas apa, komunitas pencinta komodo mungkin, dan mereka suap suapan di depanku, aaaarrrggghhh....
Sebelah kiri ini yang kasian, waktu awal duduk, si cowo nanya ke si cewek "kamu pesannya apa? " dan si cewe jawab "yaudah terserah kamu, kaya ga biasa aja".  Wooopp aku yakin jawaban wanita seperti ini lebih sulit dianalisa dibandingkan karya akhir yang aku kerjakan sekarang. HAhahaha, kasian tuh cowok. Dan saat makanannya datang, ternyata pesanan si cowok untuk cewenya tadi itu salaahh, oh my God, habis lu tong. Hahahah.
Kasiaannn.. Kasiaann..
Nah kalo yang dibelakangku lain lagi, mereka asik membicarakab Intermilan, aku gak tau mereka sedang pacaran atau sedang judi bolah. Ah sudahlah,
Sementara aku hanya fokus kepada sang bakso tercinta.
Setelah baksonya habis, aku langsung melanjutkan perjalanan walaupun hujan masih turun, karna ku rasa aku tak cocok berada di tempat itu. Hahahaha

Jumat, 21 Juli 2017

Geng.. Gam

Aku ingin tanganku kau genggam
Ringkih?
Betul
Hingga tak berdenyut
Aku ingin tanganku kau genggam
Hingga ku tak mampu membalas genggam
Aku ingin tanganku kau genggam
Sebelum terlipat dan terbungkus rapi
Ringkih?
Benar sekali
Aku butuh kau untuk kubisa berdiri
Ringkih?
Benar sekali

Usapan virtual

Seminggu terakhir, ibuku sering sekali menelfon
Dalam sehari bisa lebih dari 3 kali
Iya, dia mengetahui keadaanku yang tidak baik baik saja
Aku yakin dia sangat mencemaskanku
Fonis dokter yang mengejutkan, aku sendiri saja terheran dengan hasilnya
Karna sebelumnya aku sangat baik baik saja
Melakukan kegiatan dengan lancar dan baik
Aku ingin lekas membaik
Bukan karna aku tak ingin di telfon lebih sering oleh ibuku
Tapi aku tak ingin menambah kekhawatirannya
Karena, selain ibuku menyayangiku, aku juga sangat menyayanginya
Oh iya, ceritanya aku adalah anak rantau, sehingga usapan hangat ibuku tak bisa ku rasakan langsung

Rabu, 19 Juli 2017

Bilik hitam

Kata-kata yang lelah
Kulit tipis yang basah, mengasah tajam waktu
Maka tempat berpijak biarlah semakin tumpul
Seperti pasrah nafas dibalik teriakan dan tangis perjuangan panjang
Tak perlu kita hitung kelopak juang yang mekar
Kupu-kupu indah paham rahasia nektar
Tak lama waktu lagi untuk bersua, bahkan diantara kita ada yang tak sempat menangkap mata
Dibalik manisnya hasil kerja sang lebah
Ada sengat tinggalkan luka
Maafkan ketika aku tak mampu hasilkan madu namun berikan sengat pedas untuk kalian semua.

Dariku sang pelukis luka,
yu_ramadhan

Sabtu, 03 Juni 2017

Mengusirnya Bukan Solusi

Mengusirnya Bukan Solusi

Sebagian dari mereka memang dirasa sangat mengganggu, atau mungkin kebanyakan dari mereka. Suara bising, kegaduhan dan celotehan mereka. Berlari -larian dan tak jarang mengenai sesuatu yang menimbulkan keributan. Geram memang, tapi mengusirnya bukan solusi.

Seperti di ketahui,  masjid adalah tempat beribadah, bukan tempat bermain. Namun sebagian dari mereka memang hanya datang untuk sekedar bertemu dengan teman, atau bahkan mengisi buku ibadah wajib.

Karna keributan mereka (anak anak), sering kali orang dewasa memarahinya, memaki dengan bahasa yang tidak sepatutnya dan bahkan mengusir dan melarangnya datang kembali.

Prihatin betul lihat hal ini, disamping memang benar para anak-anak itu membuat keributan, namun setidaknya telinga mereka tidak tuli, mereka masih mau datang oleh panggilan dari Allah lewat muadzinnya itu.

Kenapa yang telah datang diusir dan di marahin,?  Kenapa yang masih dirumah dan tenang-tenang malah dibiarkan tanpa ambil peduli?

Menurutku, masalah anak-anak yang ribut ketika sholat itu tak perlu di marahin, apalagi mengusirnya. Bisa saja masalah ini diatasi dengan cara, meletakkan shaf anak-anak tersebut dibagian depan (walaupun bukan shaf pertama) tetapi ada shaf di belakang anak anak tersebut shaf orang dewasa, dengan maksud mengawal tinggak anak-anak tersebut untuk berbuat kericuhan. Masih ada lagi beberapa cara yang bisa orang dewasa lakukan, yang terpenting mereka tak dimarahi apalagi diusir. Karna itu akan menimbulkan pada diri mereka 'phobia masjid'.

Minggu, 14 Mei 2017

KOMITMEN


. .
Pernah ketika didapati diri terbagi untuk dua amanah, terlihat tidak memprioritaskan yang satunya atau bahkan keduanya. Kembali diingatkan untuk menjaga keteguhan dan memastikan diri menjadi pasukan induk dalam perjuangan menolong agama Allah. Ada menjadi garda terdepan dalam pergerakan itu.
Tidak menjadi penakut, malas atau bahkan menjadi sang munafik.

Yaahh... kaum munafikin selalu senang, orang-orang yang selalu absen dan maunya di belakang. Betul-betul senang apabila mereka tidak tercatat di buku induk pasukan, tidak dimasukkan ke dalam pasukan yang ikut membela Islam. Begitulah fakta yang terungkap dalam perang Badar, Uhud, Hunain, Khandak, dan bermacam-macam perang yang lain.

Di sinilah terlihat perbedaan munafik dan mukmin. Mereka bisa siapa saja, di mana saja; kalau mereka benar-benar beriman, sedih hatinya kalau tidak bisa ikut membela Islam. Sedih, sungguh-sungguh kesedihannya kalau dia tidak bisa membela agamanya dengan apa yang bisa dia bela.
.